Welcome to my world. Be nice here. Thank you. +Follow | Dashboard
Ervia Roisatal Amaliah
IVA (bagian 2)
♦ Friday, June 20, 2014, Friday, June 20, 2014, Add comment [0]

NASHWA
Tiba hari pertama bimbingan/les. Nashwa langsung mengajak Iva buat les di kamarnya. Nashwa bilang kalau dia lebih suka les di kamar daripada di bangku depan kamarnya yang biasanya buat ruang serbaguna, alasannya katanya biar bisa lebih konsentrasi belajar. Iva pun masuk ke kamar Nashwa. Warna kamarnya perpaduan antara warna coklat susu dan soft pink. Kombinasinya lembut sekali. Tempat tidurnya dihias ala tempat tidur Princess. Perabot kamarnya juga dihias sedemikian rupa seperti barang-barang Princess. Nashwa punya lemari khusus buat nyimpan pernak-pernik Princess dan barang-barang pink-nya yang lain. Mulai dari boneka, asesoris rambut, replika princess kecil, sampai alat-alat sekolah yang bernuansa Princess. Singkat kata, kamar Nashwa adalah kamar idaman bagi setiap anak perempuan umur 9 tahun. 
Meja belajar Nashwa ada diujung ruangan. Bisa ditebak warnanya Pink walaupun ada sedikit kombinasi putih. Nashwa mengajak Iva untuk langsung duduk di kursi meja belajar. Coba tebak apa kalimat pertama Nashwa untuk Iva. "Mbak minta pin-nya dong.. Eh, mbak punya BB kan?". Gila, mungkin untuk orang elit kebanyakan, anak kelas 3 SD sudah punya BB sendiri (bukan punya orang tua) udah biasa. Tapi di benak Iva yang bahkan memiliki gadget itu baru beberapa bulan yang lalu, itu merupakan hal yang "wah". Ivapun menjawab pertanyaan Nashwa dengan hanya mengangguk.

"Mbak sekarang bawa BB-nya nggak? Liat dong, tak invite lewat barcode"
"Bawa" (sambil mengeluarkan BB dari tas)
"Oh, gemini". 
Tangan Nashwa langsung mengambil sesuatu yang ada di sakunya. Ternyata, yang ia keluarkan adalah BB torch. Mahal.
"Aku dulu pertama kali punya hp juga yang gemini, sama kayak punya Mbak, terus ganti ini"
"Yang ini enak, kameranya bagus, layar sentuh"
"Kalau dikasih garskin juga lucu, keliatan mewah"
"Oh ya mbak, aku masih punya cashing hp ku yang dulu, mbak mau nggak? kalau mbak mau tak ambilin sekarang"
"eh, nggak, mmm, ayo sekarang mulai belajar yuk, besok pelajarannya apa? Ada pr apa?"

Perhatian Nahswa langsung teralih. Ia langsung mengeluarkan bukunya. Lalu Nashwa ngasih jadwal pelajaran, jadwal tes formatif, sama jadwal praktik di sekolahnya. Astaga, Iva lupa memperhitungkan bahwa Nashwa sekolah di sekolah terfavorit dan termahal di kotanya. Pantas selain ada jadwal pelajaran, ada jadwal tes formatif yang dilaksanakan seminggu sekali dan ada jadwal praktik pelajaran juga. Pantas juga kalau anak seumuran Nashwa punya gadget yang "lumayan" mahal. Jangan-jangan hampir sebagian besar teman Nashwa punya gadget sejenis bahkan mungkin lebih mahal.
Iva mulai sedikit minder. Iva berpikir bahwa seharusnya tadi sebelum berangkat ia memakai bedak yang sedikit tebal atau memakai lipstik atau eyeliner atau apalah. Seharusnya ia memakai baju yang sedikit mewah. Seharusnya ia tidak memakai rok hitam polos yang biasanya ia pakai ke kampus. Seharusnya ia memakai baju atau dress ala mbak-mbak hijaber untuk menghadapi anak model seperti ini.
Nashwa mudah sekali bosan. Menghadapi hal itu Iva sering memberi selingan permainan-permainan belajar. Hari pertama Iva gagal mengambil hati Nashwa. Nashwa kelihatannya masih setengah hati dibimbing sama Iva. Dari pertemuan selanjutnya Iva mulai tahu kalau Nashwa masih kesulitan dalam perkalian, dan sangat benci pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Satu hal lagi yang diketahui Iva adalah bahwa Nashwa itu penggila girlband asal Korea, SNSD.
***
Iva pun yang awalnya awam dengan lagu-lagu Korea itu, lama-lama terbiasa. Iva mendownload hampir semua lagu SNSD, menghafalkan setiap wajah dan nama masing-masing personel mereka yang hampir mirip semua, bahkan mendownload hampir semua video clip nya juga. Iva mau memberi tiap gambar, lagu dan video clipnya kepada Nashwa apabila Nashwa bisa mengerjakan latihan soal Matematika yang diberikan Iva dengan syarat nilai latihan soalnya minimal 70. Bukan main senangnya Nashwa. Lambat laun nilai minimalnya dinaikkan ke 75, 80, 85, 90, bahkan 100. Pada tahap nilai minimal 100 ini Nashwa tidak sanggup, tetapi melihat kesungguhan Nashwa, Iva akhirnya memberi juga lagu dan video clip lainnya kepada Nashwa. Nashwa pun sekarang tidak kesulitan dalam pelajaran Matematika. Mungkin hanya ada beberapa soal yang ia butuh bimbingan ketika mengerjakan. 
***
Dalam pelajaran SKI, Iva pun secara khusus sengaja pergi ke toko VCD atau DVD mencari film tentang 4 khalifah, karena saat itu pelajaran SKI Nashwa dalam satu semester adalah tentang khalifah. Iva secara khusus membeli serial DVD khalifah versi kartun, jika membeli yang versi manusia asli dewasa terlalu panjang dan bahasanya juga rumit untuk anak SD.
Jadi, ketika les untuk pelajaran SKI, Nashwa bukannya membaca buku SKI yang penuh dengan tulisan sejarah yang membosankan, tetapi dia akan melihat film tentang khalifah sesuai bab pelajaran yang diajarkan. Dari situ, Nashwa sekarang tidak lagi hafalan dalam menghafal sahabat nabi dan peranannya serta wataknya. Nashwa sudah hafal bahkan mengerti diluar kepala kisah keempat khalifah.
Iva dan Nashwapun akhirnya semakin dekat. Bukan antara tutor dengan murid, namun seperti teman. Bahkan mereka sering membicarakan dan bercerita hal diluar pelajaran. Mulai tas, film di TV, bagaimana keseharian Nashwa maupun Iva, siapa teman dekat Nashwa, siapa teman dekat Iva, bahkan shampoo favorit masing-masing mereka sudah tahu. 
Sampai akhirnya di suatu pertemuan Nashwa tanya, "Mbak Iva udah punya pacar?"

Labels: ,




Assalamualaikum Wr.Wb.

You can copy all you want, but you will always be one step behind.

About Story Credit



CLICK

TWITTER: